Dinamika Pertumbuhan dan Akumulasi Serasah Tanaman Pionir Pada Lahan Bekas Tambang Batubara: Kajian Kondisi Fisik Tanah Pasca Penanaman
Dynamics of Growth and Litter Accumulation of Pioneer Vegetation on Former Coal Mining Land: A Study of Soil Physical Conditions Post Planting
DOI:
https://doi.org/10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51799Keywords:
litter accumulation, pioneer vegetation, soil physical propertiesAbstract
ABSTRACT
Sengon (Falcataria moluccana), Mahoni (Swietenia macrophylla), and Jabon (Anthocephalus cadamba) are pioneer vegetation species commonly found in post-coal mining areas in Jambi, Indonesia. Each species exerts a distinct influence on soil development acceleration, linked to the accumulation of organic matter derived from overlying vegetation, including litter and root exudates. Therefore, long-term evaluation of the growth of these pioneer plants is essential to understand their effectiveness in post-mining land conditions. This study aims to integrate the analysis of plant growth, litter accumulation, and soil physical conditions within a holistic framework, which can serve as a reference for the impacts of revegetation following coal mining in tropical regions. The research was conducted from April to September 2022. Field observations, including plant growth measurements, litter and understory vegetation sampling, and soil sampling, were performed in the coal mining concession area of PT Nan Riang, while soil physical property tests were carried out in the Soil Fertility Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jambi. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% significance level and the Least Significant Difference (LSD) test. Results indicate that five-year-old Sengon, Mahoni, and Jabon plants in the post-coal mining area in Jambi have average heights of 18.3 m, 9.9 m, and 11.17 m; stem diameters of 15.6 cm, 4.3 cm, and 9.8 cm; and canopy diameters of 2.2 m, 0.47 m, and 1.2 m. Litter accumulation from the three pioneer species at the study site ranged from 4 to 18 tons per hectare, with Jabon producing the highest litter accumulation, followed by Sengon and Mahoni. Furthermore, planting pioneer species in post-coal mining areas has been shown to improve soil physical properties compared to control sites, attributed to the organic matter content derived from understory and pioneer plant litter.
Key words: litter accumulation, pioneer vegetation, soil physical properties
ABSTRAK
Sengon (Falcataria moluccana), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jabon (Anthocephalus cadamba), merupakan vegetasi pionir yang dapat dijumpai pada areal bekas tambang batubara di Jambi. Tiap jenis vegetasi, tentu akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap percepatan perkembangan tanah. Hal ini berhubungan dengan akumulasi bahan organik yang berasal dari vegetasi yang ada di atasnya, berupa serasah dan eksudasi akar. Sehingga, evaluasi jangka panjang terhadap pertumbuhan tanaman pionir ini diperlukan untuk memahami efektivitasnya dalam kondisi lahan pasca tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan analisis pertumbuhan tanaman, akumulasi serasah, dan kondisi fisik tanah dalam satu kerangka holistik, yang dapat dijadikan sebagai acuan dampak revegetasi pasca penambangan batubara di daerah tropika. Penelitian dilaksanakan pada April - September 2022. Penelitian lapangan berupa pengamatan pertumbuhan tanaman, pengambilan sampel serasah dan tumbuhan bawah, hingga pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada wilayah izin usaha pertambangan batubara PT Nan Riang, sedangkan Pengujian sifat fisik tanah dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5% dan uji Least Significance Different (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sengon, mahoni dan jabon umur lima tahun yang ditanam pada areal bekas tambang batubara di Jambi memiliki tinggi rata-rata (18;3,9;11,17m), diameter batang (15,6;4,3;9,8cm) serta diameter tajuk (2,2;0,47;1,2m). Akumulasi serasah tiga jenis tanaman pionir pada lokasi penelitian mencapai 4 sampai 18 ton/Ha, dengan jenis jabon sebagai penghasil serasah terbanyak pada lokasi penelitian, diikuti oleh sengon dan mahoni. Selain itu, penanaman jenis pionir pada areal bekas tambang batubara terbukti dapat memperbaiki kondisi sifat fisik tanah, jika dibandingkan dengan lokasi kontrol. Hal ini disebabkan karena pada lokasi yang ditanami jenis pionir memiliki kandungan bahan organik yang berasal dari serasah tumbuhan bawah dan tanaman pionir itu sendiri.
Kata kunci: akumulasi serasah, sifat fisik tanah, tanaman pionir
Downloads
References
Agus F, Yustika RD, Haryati U. 2006. Penetapan Berat Volume Tanah dalam Kurnia et al. (Eds.). Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Hlm: 25 – 34. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Litbang Pertanian.Departemen Pertanian.
Aprianis Y. 2011. Produksi dan laju dekomposisi serasah Acacia crassicarpa A. Cunn. di PT Arara Abadi. Tekno Hutan Tanaman 4(1): 41-47.
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penelitian Kesuburan Tanah. Jakarta: IAARD Press.
Baskorowati L. 2014. Budidaya Sengon Unggul (Falcataria moluccana) Untuk Pengembangan Hutan Rakyat. Kampus IPB Taman Kencana, Kota Bogor, Indonesia.
Blake GR. 1986. Particel Density P. 377-382. In: Methods of Soil Analiysis. Part 1. Second ed. Agron 9 Am. Soe. Of Argon. Madison, W1
Fiqa AP, Agus SD, Solikin. 2010. Seleksi Serasah Tanaman Koleksi Kebun Raya Purwodadi dalam Upaya Menghasilkan Kompos Berkualitas Tinggi. Laporan Akhir Program Insentif Peneliti dan Perekayasa LIPI. Balai Konservasi Tumbuhan Kebun raya Purwodadi LIPI.
Hanafiah AK. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 359 hlm.
Hanafiah AK. 2012. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hardiyanto E, Mujiarto S, Sulasmi E. 2007. Kekerabatan Genetik Beberapa Spesies Jeruk Berdasarkan Taksonometri. Jurnal Hort 17(3): 203-216.
Hardjowigeno S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta.
Hillel D. 1982. Introduction to Soil Physics. Academic Press. New York. Hal 359.
Krisnawati H, Kallio M, Kanninen M. 2011. Anthocephalus cadamba Miq. Ekologi Silvikultur dan Produktivitas. Bogor (ID): CIFOR.
Kurniawan A, Parikesit. 2008. Persebaran Jenis Pohon di Sepanjang Faktor lingkungan di Cagar Alam Pananjung, Pangandaran. Jawa Barat. Biodiversitas 9(4): 275–279
Mashudi, M Susanto dan L Baskorowati. 2016. Potensi Hutan Tanaman Mahoni (Swietenia macrophylla King) dalam Pengendalian Limpasan Erosi. J. Manusia dan Lingkungan 23(2): 259-265.
Lal R, Greenland DJ. 1979. Soil Physical Properties and Crop Production in the tropics. Wiley and Sons. Pp: 52.
Lestari KG, Budi SW, Suryaningtyas DT. 2022. The impact of revegetation activities in various post-mining lands in Indonesia (study of literature). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 959(1), 012038.
Marganingrum D, Noviardi R. 2010. Pencemaran Air dan Tanah di Kawasan Pertambangan Batubara di PT Berau Coal, Kalimantan Timur. Riset Geologi dan Pertambangan 20 (1):11-20.
Munir M, Swasono MAH. 2013. Potensi Pupuk Hijau Organik (Daun Trembesi, Daun Paitan, Daun Lamtoro) Sebagai Unsur Kestabilan Kesuburan Tanah.
Nugroho AW, Yassir I. 2017. Kebijakan Penilaian Keberhasilan Reklamasi Lahan Pasca-Tambang Batubara di Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan (14)2:121-136.
Nurjanto HH, Agus C, Dewi W. 2008. Perkembangan Bahan Organik dan Mikroorganisme Tanah Pada Berbagai Tingkat Kolonisasi Vegetasi Cendana (Studi Kasus Rehabilitasi Lahan Kritis di Wanagama). Laporan Penelitian. Universitas Gadjah Mada.
Orwa C, Mutua A, Kindt R, Jamnadass R, Anthony S. 2009. Agroforestry Tree Database: A Tree Reference and Selection Guide Version 4.0. http://www.worldagroforestry.org/treedb2/AFTPDFS/Anthocephalus_cada mba.pdf [16 Oktober 2022].
Putinella JA. 2011. The Improvement of Physical Characteristics of Regosols and the Response of Mustard Crop (Brassica juncea L.) Due to the Appication of Sago Pith Waste Compost and Urea Fertilizer. Jurnal Budidaya Pertanian 7: 35-40.
Rachman LM, Wahjunie ED, Brata KR, Purwakusuma W, Murtilaksono K. 2013. Fisika Tanah Dasar. Bogor (ID): Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Rahmawaty. 2002. Restorasi Lahan Bekas Tambang Berdasarkan Kaidah Ekologi. USU digital library.
Shrestha RK, Lal R. 2011. Changes in Physical and Chemical Properties of Soil after Surface Mining and Reclamation. Geoderma 161(2011): 168 – 176.
Singh AN, Raghubanshi AS, Singh JS. 2002. Plantation as a Tool for Mine Spoil Restoration. Current Sci. 82(12):1436-1441.
Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor (ID): Departemen Ilmu-ilmu Tanah. Fakultas Pertanian IPB.
Sofyan RH, Wahjunie ED, Hidayat Y. 2017. Karakterisasi fisik dan kelembaban tanah pada berbagai umur reklamasi lahan bekas tambang. Buletin Tanah dan Lahan 1(1): 72-78.
Sourkova M, Frouz J, Fettweis U, Bens O, Huttl RF, Santruckova H. 2005. Soil Development and Properties of Microbial Biomass Succession in Reclaimed Post Mining Sites Near Sokolov (Czech Republic) and Near Cottbus (Germany). Geoderma 129: 73–80.
Suhartati. 2008. Aplikasi Inokulum EM-4 dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Bibit Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen). Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat Kuok. Jl. Raya Bengkinang-Kuok Km. 9, Riau.
Utomo WH. 1995. Erosi Dan Konservasi Tanah. Universitas Brawijaya. Malang.
Wali M, Haneda NF, Maryana N. 2014. Identification of Useful Chemical Content of Red and White Jabon Leaf (Anthocephalus spp.). J. Silvikultur Tropika 5(2): 77-83.
Yulipriyanto H. 2009. Laju Dekomposisi Pengomposan Sampah Daun dalam Sistem Tertutup. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dian Nisya, Handojo Hadi Nurjanto, Eny Faridah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.












