AKUNTANSI UNTUK CULTURAL HERITAGE ASSETS: INTERAKSI SIMBOLIK TERHADAP AKUNTABILITAS DAN KEBERLANJUTAN ASET BUDAYA DALAM UPACARA GAUKANG TU BAJENG

Authors

  • Muhammad Ashar Universitas Hasanuddin
  • Annesa Tasya Maghfirah Universitas Hasanuddin
  • Darwis Said Universitas Hasanuddin
  • Alimuddin Alimuddin Universitas Hasanuddin

DOI:

https://doi.org/10.22437/jmk.v14i04.49589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik akuntansi budaya dalam Upacara Gaukang tu Bajeng dengan mengungkap makna simbolik dan nilai-nilai kearifan lokal yang membentuk mekanisme akuntabilitas dan keberlanjutan keuangan masyarakat Bajeng di Gowa. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif interpretif dengan pendekatan interaksionisme simbolik. Lokasi penelitian berpusat di Bajeng dengan melibatkan pemuka adat, tokoh masyarakat, pewaris pusaka, serta warga yang terlibat aktif dalam prosesi ritual yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui lima tahapan: deskripsi naratif, analisis proses interaksi, pemaknaan simbol, kategorisasi tema, serta analisis mind, self, and society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gaukang tidak hanya berfungsi sebagai pusaka sakral, tetapi juga sebagai medium simbolik dan sosial tempat praktik akuntabilitas dijalankan dan nilai budaya diwariskan. Penghormatan spiritual terhadap pusaka, ritual kolektif, serta mekanisme pembiayaan partisipatif mencerminkan nilai pengabdian, solidaritas, dan tanggung jawab komunal. Nilai-nilai ini mempengaruhi cara komunitas mengorganisasi, mengalokasikan, dan mempertanggungjawabkan sumber daya keuangan, melampaui praktik akuntansi teknis, serta merepresentasikan makna bersama dan legitimasi budaya

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ardiana, I. D. G., Dewi, N. M. A. S., & Mardika, I. N. (2025). Tri Hita Karana and financial governance in Balinese communities. Bali Journal of Accounting Studies, 12(1), 44–59.

Arfah, M. D. (1995). Sejarah perjuangan bangsa di daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Aryawati, I. A. A., Suardikha, I. M. S., & Sudana, I. P. (2023). Activity-based costing dalam perhitungan biaya tradisi budaya. Jurnal Akuntansi Tradisional, 4(2), 101–117.

Aversano, N., Christiaens, J., & Manes Rossi, F. (2020). IPSAS and heritage assets: Critical issues and future prospects. Accounting Forum, 44(3), 267–285. https://doi.org/10.1080/01559982.2020.1784825

Bambagiotti-Alberti, M., Cecchi, C., & Ciampa, F. (2016). Cultural heritage and sustainable development: Accounting and management challenges. Journal of Cultural Heritage Management and Sustainable Development, 6(2), 140–153. https://doi.org/10.1108/JCHMSD-05-2015-0021

Barton, A. D. (2000). Accounting for public heritage facilities: Assets or liabilities of the government? Accounting, Auditing & Accountability Journal, 13(2), 219–236. https://doi.org/10.1108/09513570010323594

Bleibleh, S., & Awad, J. (2020). Collective memory and social cohesion through cultural heritage conservation. Cities, 101, 102692. https://doi.org/10.1016/j.cities.2020.102692

Carnegie, G. D., & Wolnizer, P. W. (1995). The financial value of cultural, heritage and scientific collections: An accounting fiction. Australian Accounting Review, 5(1), 31–47. https://doi.org/10.1111/j.1835-2561.1995.tb00004.x

Cerreta, M., & Giovene di Girasole, E. (2020). Cultural heritage for local sustainable development: Spatial decision support system for historical landscape management. Sustainability, 12(3), 1028. https://doi.org/10.3390/su12031028

Clark, K. (2006). Capturing the public value of heritage: The scope for new approaches. International Journal of Heritage Studies, 12(4), 321–333. https://doi.org/10.1080/13527250600821702

Cole, S. (2008). Tourism, culture and development: Hopes, dreams and realities in Eastern Indonesia. Channel View Publications.

Dana, I. M., & Adnyana, I. B. G. (2025). Tradisi kolektif dan akuntabilitas sosial dalam upacara Bali. Jurnal Akuntansi Budaya, 3(1), 50–66.

Ellwood, S., & Greenwood, M. (2016). Accounting for heritage assets: The development of financial reporting standards in the UK. Financial Accountability & Management, 32(3), 264–286. https://doi.org/10.1111/faam.12088

Hasan, M., Nur, A., & Syamsuddin, R. (2022). Kearifan lokal sebagai basis standar budaya kerja komunitas. Jurnal Budaya dan Akuntansi Lokal, 1(1), 77–90.

Hooper, K., Kearins, K., & Green, R. (2005). Knowing “the price of everything and the value of nothing”: Accounting for heritage assets. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 18(3), 410–433. https://doi.org/10.1108/09513570510600733

Hopwood, A. G. (1988). Accounting and organizational change. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 1(2), 7–17. https://doi.org/10.1108/09513578810131502

Ikhsano, F., Prasetyo, A., & Widodo, Y. (2024). Symbolism and public legitimacy in Southeast Asian music industry. Asian Cultural Studies Review, 7(2), 144–163.

Ilyas, H., Pattinama, P., & Tuhumury, M. (2023). Akuntansi adat sebagai sarana akuntabilitas ritual. Jurnal Akuntansi Nusantara, 9(1), 33–47.

Kusumaningtyas, D. (2025). Simbol dan interaksi dalam identitas budaya generasi muda perkotaan. Jurnal Sosiologi Indonesia, 11(2), 215–232.

Lestari, A. (2023). Akuntansi dalam perspektif budaya: Studi teoretis. Jurnal Akuntansi dan Sosial, 10(2), 165-179.

Li, Y., Wang, N., & Wang, L. (2019). Reconstructing local identity: The role of heritage and tourism. Tourism Geographies, 21(3), 503–526. https://doi.org/10.1080/14616688.2019.1588345

Ramadhan, P., Sari, N. P., & Wibawa, K. (2025). Akuntabilitas sosial dalam ritual komunitas lokal. Jurnal Akuntansi dan Kebudayaan, 2(3), 88–103.

Ranasinghe, R., & Cheng, C. (2018). Commodification and hybrid lives: Cultural tourism in a postmodern age. Journal of Tourism and Cultural Change, 16(3), 211–228. https://doi.org/10.1080/14766825.2017.1417467

Roders, A. P., & van Oers, R. (2011). Bridging cultural heritage and sustainable development. Journal of Cultural Heritage Management and Sustainable Development, 1(1), 5–14. https://doi.org/10.1108/20441261111129902

Sacco, P. L., Blessi, G. T., & Nuccio, M. (2014). Culture as an engine of local development processes: System-wide cultural districts. Growth and Change, 45(4), 544–570. https://doi.org/10.1111/grow.12054

Shafira, R. (2024). Digital fandom and symbolic interaction: The case of ARMY. Journal of Cultural Communication, 5(1), 78–94.

Shinta, T. (2024). Teori interaksionisme simbolik dalam kajian akuntansi budaya. Jurnal Teori Akuntansi Indonesia, 6(2), 100–118.

Sopanah, S., Marwa, N., & Indrasari, R. (2023). Kearifan lokal dan tata kelola keuangan komunitas. Jurnal Akuntansi Lintas Budaya, 3(1), 60–75.

Sopanah, S., Suryani, E., & Wahyuni, D. (2024). Akuntansi sebagai sarana solidaritas sosial: Studi kultural. Jurnal Akuntansi dan Masyarakat, 5(1), 45–62.

Yamashita, S. (1994). Manipulating tradition: Tourism, the mass media, and the reproduction of culture in Southeast Asia. University of Hawaii Press.

Downloads

Published

2025-11-07

How to Cite

Ashar, M., Maghfirah, A. T., Said, D., & Alimuddin, A. (2025). AKUNTANSI UNTUK CULTURAL HERITAGE ASSETS: INTERAKSI SIMBOLIK TERHADAP AKUNTABILITAS DAN KEBERLANJUTAN ASET BUDAYA DALAM UPACARA GAUKANG TU BAJENG. Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan, 14(04), 1703–1718. https://doi.org/10.22437/jmk.v14i04.49589